DIAMLAH ...........!!!

Sungguh sejuk Membaca tulisan dengan kata-kata yang santun.
Begitu nyaman Mendengar kata-kata yang lembut.
Seperti air yang menetes dari pancuran.
Seperti hembusan angin dari rindangnya pepohonan.
Sulitkah ?
Tidak sulit sebenarnya.
Hanya butuh kesabaran dan kerendahan hati.
Bila tak mampu mengucapkan pujian
Diamlah
Bila tahu ucapanmu menyakitkan
Diamlah
Itu lebih baik untukmu dan sekitarmu.

Ctt : tulisan diatas ditujukan pada penulis.

Untuk Ayah Tercinta

Ayahku. . . seorang pekerja keras, seharian bekerja tak kenal lelah. Terkadang dini hari saat orang-orang masih lelap dalam tidurnya ayahku sudah berada diladang untuk mencangkul, “kalau siang terlalu panas, bapak sudah tidak kuat” begitu kata ayahku.

Ya, ayahku memang sudah tak muda lagi. Tidak gagah lagi seperti dulu. Aku masih ingat wajah tampan ayahku sewaktu muda, mirip Ikang fawzy kata teman-temanku, ada juga yang bilang mirip Mus Mujiono hehehe. Tapi sekarang wajah tampan itu telah berubah keriput, kulit yang menghitam karena sengatan matahari dan punggung yang tak lagi setegak dulu.

Rindu Ibu

"Andai rindu itu berwujud,
Mungkin takkan ada tempat untukku berdiri disini.
Karena semua ruang telah penuh oleh rindu ini".

Kata-kata diatas tak cukup untuk menggambarkan betapa besar rasa rinduku padanya. Seorang yang telah mengandung dan melahirkanku. Membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Memasak, mencuci pakaianku, menyisir dan memakaikan pita-pita cantik dirambutku. ya dialah ibuku.

Masih jelas kuingat saat ibuku menangis karena tak sanggup menghadapi kenakalanku. Aku belum lupa ketika ibuku harus memasak lagi karena aku tidak suka dengan masakannya waktu itu. Kesabaran dan kelembutannya sungguh luar biasa. Tak ada kata lelah mengasuhku.

Lima Ribu Rupiah

Pagi itu sangat suram untuk seorang ibu yang hanya memiliki Rp 5.000 saja didompetnya. Bagaimana dia menyediakan makanan bergizi untuk anak-anaknya dengan uang yang hanya Rp 5.000 itu. Uang itu hanya mampu membeli seikat bayam, satu papan tempe, tiga buah cabe merah keriting, empat siung bawang merah, empat suing bawang putih, dan satu buah tomat. Lalu bagaimana kalau nanti anaknya merengek minta jajan ? duuh. . . alangkah pusingnya si ibu ini. Sangat ironis memang, di negeri yang kaya raya ini masih juga ada yang kekurangan.

Cuma ada mi instan dan beras didapur. Tak ada ayam, ikan atau telor dikulkas. Si ibu berpikir keras bagaimana ia harus mampu menyediakan makan hari ini dengan uang Rp 5.000, dan juga menyisakan sedikit untuk jajan anaknya. Ia tak mungkin membiarkan anak-anaknya menangis minta jajan. ditengah asyiknya si ibu menghitung, tiba-tiba terdengar suara dari luar.

Belahan Jiwa

Andai kau tak ada. . . . sanggupkah aku tetap berdiri
Andai kau tak ada. . . bagaimana aku mampu bertahan
Andai kau tak ada. . . munkinkah aku masih disini
Andai kau tak ada. . . masihkah akan terbentang jalan

Kau menjadi mata saat aku tak mampu melihat
Kau menjadi kaki saat aku tak mampu melangkah
Kau bangkitkan saat aku rapuh dan terluka
Kau bimbing aku menuju jalan kebaikan

Karenamu. . . langitku selalu cerah
Karenamu. . . duniaku menjadi indah
Karenamu. . . hariku penuh tawa
Karenamu. . . hidupku bahagia